Jumat, 17 September 2010

Shalat Untuk Kecerdasan dan Kekuatan Hafalan Al-Qur’an

Kecerdasan dan kuatnya hafalan merupakan faktor penting pendukung lancarnya proses pendidikan Al-Qur’an. Kecerdasan yang minim atau hafalan yang lemah menjadi kendala menerima pendidikan Al-Qur’an.

Sahabat Abu Hurairah r.a pernah mengadu kepada Rasulullah saw. mengeluhkan hafalan. “Ya Rasulullah, aku mendengar banyak hadits darimu dan aku melupakannya,” ujarnya. Beliau lalu memerintahkan Abu Hurairah membentangkan selendang. Selendang itu lalu diraba oleh Rasulullah dengan kedua tangan beliau. “Rengkuhlah selendang itu,” perintah beliau lebih lanjut. Abu Hurairah kemudian merengkuhkan selendang itu ke dadanya. Setelah itu dia tidak pernah lupa terhadap hadits yang diterimanya sama sekali. (Shahih Bukhari I: 34)

Sebagaimana sahabat Abu Hurairah, sahabat Abdullah bin Abbas juga pernah mengeluhkan hafalannya kepada Rasululah saw. Melihat sahabat beliau ini suka melayani, Rasulullah saw. lalu memeluknya kuat seraya mendoakan kepadanya, “Ya Allah, pedalaman dia dalam urusan agama dan ajarkan dia kitab dan takwil (tafsir).” (shahih Bukhari I: 25)

Asy-Syafi’i juga pernah mengeluhkan daya hafalannya yang jelek kepada Waki, gurunya. Waki lalu menasihatinya agar meninggalkan kemaksiatan. “Ilmu itu nur dan nur Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat,” ujar gurunya melanjutkan.

Usaha-usaha untuk meningkatkan daya kecerdasan dan hafalan baik secara fisik, mental, maupun spiritual ternyata telah dilakukan oleh orang-orang saleh terdahulu dan berhasil. Abu Hurairah misalnya dengan usahanya berkonsultasi kepada Rasulullah saw. dia menjadi terdepan dalam menghafal hadits di jajaran para sahabat. Diceritakan dia menghafal lebih dari 5.374 buah hadits. Abdullah bin Abbas juga demikian. Setelah didoakan Rasulullah saw., dia terkenal sebagai pakar tafsir yang tidak ada tandingannya. Sejak didoakan beliau, dia telah menghafal Al-Qur’an dan mengerti maknanya. As-Syafi’i juga demikian. Pemikiran-pemikirannya diakui dunia Islam hingga kini. Pada usia dini, dia telah menghafal Al-Qur’an.

Dengan demikian, usaha untuk meningkatkan daya kecerdasan dan kekuatan hafalan adalah suatu keniscayaan, karena manusia dalam hal ini berbeda-beda tingkatannya. Ada yang tingkat hafalannya kuat, sedang, dan ada yang lemah. Rasulullah saw. pernah memberitahu cara meningkatkan daya kecerdasan dan hafalan, yaitu melalui shalat yang disebut dengan shalat ‘Taqwiyatul Hifidz’ (Shalat untuk memperkuat hafalan) atau ‘Shalat li Hifdzil Qur’an (Shalat untuk menghafal Al-Qur’an).

1. Latar Belakang Shalat.

Sahabat Abdullah bin Abbas menceritakan bahwa sahabat Ali bin Abi thalib pernah mengeluh kepada Rasulullah saw. atas hafalannya yang lemah. Beliau lalu bersabda, “Wahai Ali, maukah engkau aku ajari doa, mudah-mudahan dengan itu Allah swt. memberimu dan anak didikmu manfaat? Juga hafalanmu menjadi kuat?” “Tentu, ya Rasulullah,” jawab Ali senang.
Rasulullah saw. lalu bersabda, “Lakukanlah shalat empat rakaat pada malam Jum’at. Pada rakaat pertama bacalah surat al-Faatihah dan surah Yaasin. Pada rakaat kedua kamu baca Haa Miim, ad-Dukhan, setelah membaca, al-Faatihah dan Alif Laam Miim Tanzil, as-Sajdah. Kemudian pada rakaat keempat surah al-Faatihah dan surat Tabarak. Jika tasyahud telah selesai, sampaikan pujian kepada Allah swt., lalu bershalawatlah atas para nabi, kemudian mintakanlah ampunan bagi orang-orang yang beriman.”

Beliau melanjutkan, “Setelah itu, wahai Ali, bacalah doa berikut ini,

اللهم ارحمنى بترك المعاصى أبدا ما أبقيتنى وارحمنى من أن أتكلف ما لا يعنينى وارزقنى حسن النظر فيما يرضيك عنى. اللهم بديع السماوات والأرض ذا الجلال والاكرام والعزة التى لا ترام، أسألك ياالله يارحمن بجلالك ونور وجهك أن تلزم قلبى حفظ كتابك كما علمتنى وارزقنى أن أتلوه على النحو الذى يرضيك عنى وأسألك أن تنور بكتابك بصرى وتطلق به لسانى وتفرج به عن قلبى وتشرح به صدرى وتستعجل به بدنى وتقونى على ذلك وتعيننى عليه فانه لايعين على الخير غيرك ولا يوفق لذلك الا أنت

“Ya Allah Tuhanku, rahmatilah aku agar dapat meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan sepanjang hidupku. Rahmatilah aku dari usaha habis-habisan yang tidak berguna bagiku. Karuniakanlah aku kemampuan yang baik dalam memandang perkara yang membuat Engkau ridha kepadanya. Wahai Zat Yang Maha Mencipta langit dan bumi, wahai Zat Yang memiliki kegungan, kemuliaan, dan kejayaan yang tidak akan punah. Ya Allah, ya Rahman, dengan segenap kegungan-Mu dan kecemerlangam Zat-Mu, aku memohon engkau menetapkan hatiku di dalam menghafal Kitab Suci-Mu sebagaimana Engkau mendidikku.
Karuniakanah aku kemampuan membacanya di atas jalan yang Engkau ridha kepadanya.
Dengan perantaraan Kitab Suci-Mu, aku memohon, Engkau menerangi pandanganku, Engkau berikan kelancaran dan kefasihan lisanku, Engkau buka hatiku, Engkau lapangkan dadaku, Engkau gerakkan badanku, dan Engkau berikan kekuatan dan pertolongan atas semua itu. Sesungguhnya tidak ada yang memberikan pertolongan atas kebaikan itu selain Engkau. Dan tidak ada daya kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah swt. semata, Zat Yang Maha Luhur lagi Maha Agung.”)

Beliau bersabda melanjutkan, “Wahai Ali, lakukanlah shalat ini tiga kali, lima kali, atau tujuh kali, niscaya dengan izin Allah dikabulkan. Sesungguhnya doa ini tidak akan menyalahi orang yang beriman sama sekali (yakni pasti dikabulkan).”

2. Kedudukan Hadits.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Sunan-nya nomor 3641, al-Hakim dalam al-Mustadrak I/316. Ad-Daruqutni, dan Ibnu Sunni dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah nomor 579.
At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan dan gharib ‘Asing’. Kami tidak mengetahuinya selain dari jalur al-Walid bin Muslim. Daruqutni meriwayatkan dari Naqqasy (Muhammad bin al-Hasan bin Muhammad al-Muqri), gurunya ad-Daruquthni. Ibnu al-Jauzi berkata, “Al-Walid penyembunyi cacat dan Naqqasy tertuduh.”
Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih menurut ketentuan Bukhari dan Muslim.” Ibnul Sa’ad berkata, Al-Walid dapat di percaya (tsiqah) dan banyak haditsnya menurut al-Ijli dan Ya’qub bin Syaibah. “
Ibnu Sunni meriwayatkan dari Abdullah Muhammad bin Muslim dan Muhammad bin Karim bin Marwan dari Hisyam bin Ammar dari Muhammad bin Ibrahim al-Quraisyi dari Abu Shalih dari Ikrimah dari Abdullah bin Abbas. Dari jalur periwayatan ini tidak terdapat an-Naqqasy sebagaimana disebut oleh Ibnu al-Jauzi. Dengan jalur riwayat ini berarti terbantulah riwayat at-Tirmidzi, ad-Daruquthni, dan al-Hakim. Juga tertamballah kedhaifan dari arah tadhlisnya al-Walid. Hadits ini dengan demikian tidak jatuh dari nilai hasan.

3. Bukti Kemujaraban.

Sahabat Ali bin Abi Thalib setelah melakukan shalat kali ketujuh datang menemui Rasulullah saw. seraya berkata, “Kini aku mempelajari empat puluh ayat dan sepertinya Al-Qur’an tampak di depan mataku. Begitu pun jika aku mendengar hadits, tatkala aku mengucapkannya tidak ada satu huruf pun tertinggal.”
Selain suami Sayyidah Fatimah yang telah membuktikan keampuhan shalat tersebut, beberapa ulama juga telah membuktikannya dan mendapati kemujaraban. Al-Hafidzh Abul Hasan Ibnu Iraq berkata, “Telah memberitahukan kepadaku tidak hanya satu orang bahwa mereka mencoba melakukan shalat itu dan mereka membuktikan kemanjurannya secara nyata.”

4. Tata Caranya.

Secara ringkas, tata cara shalat yang disebut dengan shalat Taqwiyatul Hifidz tersebut adalah sebagai berikut.
a. Pada malam Jumat berniatlah melakukan shalat sunnah empat rakaat.
b. Pada rakaat pertama membaca al-Fatihah ditambah surah Yaasin. Rakat kedua: al-Faatihah ditambah ad-Dukhan. Rakaat ketiga: al-Faatihah ditambah as-Sajdah. Rakaat keempat:Al-Fatihah ditambah Tabarak (boleh dengan membawa dan melihat mushaf).
c. Setelah tasyahud sebelum salam lakukanlah:
1. Memuji kepada Allah, misalnya, dengan mengucapkan kalimat tahmid.
2. Menghaturkan shalawat dan salam atas Nabi Muhammad dan para nabi yang lain, misalnya dengan membaca shalawat Ibrahimiyah.
3. Mintakanlah ampun kepada orang orang yang beriman, misalnya membaca doa yang tersebut di dalam surah al-Hasyr: 10.
4. Membaca doa sebagaimana tersebut diatas.
d. Lakukanlah shalat ini barang tiga kali, lima kali, atau tujuh kali.

5. Sumber Rujukan.

Riwayat mengenai shalat Taqwiyatul Hifidz ini bisa dijumpai pada kitab:
1) Tuhfatul Ahwadzi, Syarah Sunan at-Tirmidzi, al-Mubarakfuri, jilid 10 hlm. 18,
2) Amalul yaum wal Lailah, Ibnu Sunni ad-Dinawari nomor 528,
3) Tuhfatud Dzakirin, asy-Syaukani, hlm. 173, dan
4) Kitab Targhib wat Tarhib, al-Ashbihani, jiid 2 hlm. 529 nomor 1270.


Sumber: Lukmanelhakim.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar